mengumpat

Mengumpat dalam istilah bahasa arabnya disebut Ghibbah (الغيبة), bermaksud menceritakan atau menyebarkan sesuatu perkara tentang individu tertentu, yang mana perkara itu dibenci olehnya walaupun perkara itu benar.

Seperti mana hadith berikut:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْغِيبَةُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Wahai Rasulullah, apakah ghibah itu?” beliau menjawab: “Kamu menyebutkan tentang temanmu dengan sesuatu yang ia benci.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana sekiranya apa yang kukatakan memang benar?” Beliau menjawab: “Jika memang apa yang kamu katakan itu benar, maka sungguh kamu telah menggibahnya, namun jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka sungguh kamu telah berdusta.”

Mengumpat ini boleh berlaku tanpa kita sedar. Kadang-kadang dah takda topik, kita buka keburukan orang lain untuk dijadikan topik hangat perbualan.

Ringan dan sangat mudah untuk kita lakukan, tapi sangat berat di sisi agama.

Nabi mengambarkan orang yang mengumpat ini umpama memakan daging saudara sendiri

مَنْ ذَبَّ عَنْ لَحْمِ أَخِيهِ بِالْغِيبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa menahan diri dari memakan daging saudaranya dalam Ghibah, maka menjadi kewajiban Allah untuk membebaskannya dari api neraka.”(Riwayat Ahmad No. 26327)

Dalam hadith yang lain, Rasulullah mengambarkan bau orang yang melakukan mengumpat ini umpama bau bangkai

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارْتَفَعَتْ رِيحُ جِيفَةٍ مُنْتِنَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ الرِّيحُ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ

ketika kami besama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, datang angin yang membawa bau bangkai yang busuk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian tahu bau apa ini? ini adalah bau orang-orang yang suka meng-ghibah orang orang mukmin”. (Riwayat Ahmad No. 14257)

Perbuatan mengumpat ini sangat bahaya, kerana dosa ini melibatkan kita sesama manusia, jadi untuk dihapuskan dosa ini tidak cukup sekadar kita bertaubat kepada Allah tapi perlu meminta maaf kepada orang yang telah umpat sebelum ini

Kesan Mengumpat Di Akhirat Kelak

Barangsiapa yang berusaha menahan dirinya dari mengumpat saudaranya maka Allah akan menyelamatkan wajahnya diakhirat kelak

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang menahan ghibah terhadap saudaranya, maka Allah akan menyelamatkan wajahnya dari api neraka kelak pada hari kiamat.” (Riwayat Tirdmizi No. 1854)

Bukan sekadar itu, Allah juga akan menutup aib orang yang menjaga mulutnya daripada mengumpat orang lain

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.”

Dalam hadith di atas diceritakan juga apa yang berlaku kepada mereka yang suka membuka aib saudaranya iaitu perbuatan mengumpat, maka aibnya akan dibuka seluas-luasnya.

Tambahan pula yang membukanya itu adalah Allah, maka sudah pasti tidak ada yang tersorok.

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahannya, Allah tetap akan menampakkan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya.” (Riwayat Abu Daud No. 4236)

Orang yang selalu mengumpat ini juga akan dihukum dengan mencakar muka dan dada yang mana kuku itu terbuat dari tembaga

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku dinaikkan ke langit (dimi’rajkan), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.” (Riwayat Abu Daud No. 4235)

Dengan dalil-dalil yang ada ini, maka seharusnya menyentap perasaan dan fikiran kita agar lebih berhati-hati dan berfikir dua kali sebelum bercakap perihal orang lain.

Tetapi tidak semua perilaku mengumpat itu haram, ada mengumpat yang dibenarkan oleh syarak. Ikuti artikel seterusnya.

Baca: MENGUMPAT YANG DIBENARKAN OLEH ISLAM

Rujukan:
Ensiklopedia Hadith

2 thoughts on “MENGUMPAT: DEFINISI, DALIL DAN KESAN.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *